Zaman Dahulu Pekerja Tambang di Bangka Minum Kopi Pan Chok

Ahada
Zaman Dahulu Pekerja Tambang di Bangka Minum Kopi Pan Chok
Ilustrasi ngopi
Akhmad Elvian
Akhmad Elvian

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID --- Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian mengatakan, berdasarkan laporan residen Belanda Algemeen Verslag der Resident Banka 1851 telah dilakukan penelitian terhadap tanaman Kopi di Pulau Bangka.

Hasil penelitian menyatakan, bahwa Kopi tumbuh subur di pulau Bangka dan produktif, akan tetapi kualitas Kopi yang dihasilkan masih kalah dengan kualitas kopi dari daerah lainnya.

Untuk itu Pemerintah Hindia Belanda menyarankan silakan Kopi ditanam di pulau Bangka khusus untuk dikonsumsi lokal saja.

"Kebiasaan minum Kopi juga belaku bagi pekerja tambang (parit) Timah orang Tionghoa di Pulau Bangka. Dikenal istilah Kopi Pan Chok, yaitu minum Kopi yang dilakukan saat istirahat setelah bekerja setengah hari di lokasi tambang (parit Timah) atau telah bekerja setengah kung/kong," kata Elvian.

Ia menyebutkan, Kopi dihidangkan biasanya di atas tikar bertandang, yang khusus dihamparkan sebagai lambang kehangatan dan keramahtamahan (gastvrijheid) tuan rumah yang ingin berlama lama menerima tamu di rumah.

"Kopi juga biasanya dihidangkan bersama panto (pasangan atau temannya kopi) berupa penganan ringan kue khas Bangka (rintak sagu, sempret, semprong) yang sering juga disebut dengan kanti ngupi.  Makanya adat kita harus berbaik baik dengan tetangga," katanya.

Elvian memgatakan, sekarang tradisi keramahtamahan dalam  atau gastvrijheid sudah berkurang di Pulau Bangka terutama di Kota Pamgkalpinang karena kebiasaan ngopi sudah beralih ke kedai dan warung kopi dan menjadi kegiatan bisnis ekonomi tersendiri dan berkembang pesat.

"Ada pergeseran dari kopi sebagai sarana keramahtamahan atau gastvrijheid ke fungsi lain yaitu gaya hidup dan kesenangan atau leisure," ujarnya.

Elvian menambahkan, Ngopi saat ini menjadi bagian dari gaya hidup. Warung kopi atau kedai kopi awalnya tersebar di 10 distrik penambangan Timah di Pulau Bangka. (BBR)

Laporan: Gusti Randa