Waktunya Buruh Memperjelas Eksistensi

Admin
Waktunya Buruh Memperjelas Eksistensi
Foto: Ichsan Husein

BELITUNG, BABELREVIEW -- May Day atau Hari Buruh Internasional yang jatuh setiap 1 Mei, bukanlah hari untuk berlibur bagi para buruh. Hari keramat ini justru dijadikan buruh sebagai momen  untuk memperjuangkan  kesejahteraan.

Karenanya, setiap 1 Mei para buruh memperingati hari ini sebagai ajang memperlihatkan dan memperjelas eksistensi mereka. Buruh bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Buruh harus kuat dan solid untuk menyongsong kesejahteraan.

Tulisan ini jelas terbaca  pada sebuah spanduk di kawasan wisata Pantai Tanjung Pendam Kabupaten Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pagi Selasa 1 Mei 2018,  ratusan perwakilan buruh dari seluruh Pulau Belitung hadir di lokasi wisata ini dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional.

Berb eda dengan peringatan Hari Buruh (May Day) di daerah lain yang biasanya diwarnai dengan aksi unjuk rasa atau demonstrasi, May Day di Belitung ini justru diisi dengan kegiatan Orasi Damai. Orasi ini sebagai wujud eksistensi kaum buruh yang merupakan bagian dari penggerak pembangunan nasional maupun daerah.

”Masih ada yang punya anggapan gerakan buruh sebagai gerakan yang mengkhawatirkan. Kita bantah itu,” kata Darusman Aswan, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kepulauan Bangka Belitung mengawali orasinya. Sedikitnya ada empat hal yang disorot oleh KSPSI Kepulauan Bangka Belitung dalam peringatan May Day tahun ini.

Pertama, soal Peraturan Pemerintah (PP) nomor 20 tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Belakangan ini, isu tersebut memang melahirkan perdebatan sengit di kalangan masyarakat dan pemerintah. Ada kekhawatiran besar, kehadiran Tenaga Kerja Asing dapat mematikan kehidupan buruh di dalam negeri.

Tetapi dengan kompetensi yang dimiliki, buruh dalam negeri mestinya bisabersaing dan memenangkan persaingan tersebut. “Terkait PP 20 tahun 2018, esensinya adalah kita  wait and see,” sebut Darusman. Kedua, KSPSI Kepulauan Bangka Belitung siap mengawal PP nomor  78 tahun 2015 tentang pengupahan. Darusman menyayangkan masih ada imej pemaksaan terkait penetapan upah minimum di Kepulauan Bangka Belitung beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak mendapat intervensi atau dorongan dari partai politik manapun. Selain menyorot dua PP di atas, KSPSI Kepulauan Bangka Belitung juga memberikan perhatian soal Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) serta pelanggaran industrial yang masih terjadi di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. “Pelanggaran industrial di Babel masih masif.

Harapan kami kepada Disnaker untuk aktif menggerakkan LKS (Lembaga Kerjasama -- red),” sebut Darusman. Selain orasi damai, peringatan Hari Buruh di Tanjung Pendam juga diisi dengan kegiatan jalan santai dan pasar murah yang bekerjasama dengan Polda Kepulauan Bangka Belitung.

Pada kesempatan yang sama Kapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen (Pol) Syaiful Zachri menyebut Hari Buruh sebagai hari untuk merefleksikan diri. “Perlu ada sinergitas antara pemerintah, pengusaha, dan buruh. Kita jangan kalah dengan pekerja yang datang dari luar negeri. Kita harus bisa bersaing dengan dunia luar,” imbuh Syaiful Zachri. (BBR)


Penulis :Ichsan Husein
Editor :Sanjay
Sumber :Babelreview