Tanaman Sorgum Primadona Baru Masyarakat Beruas

Admin
Tanaman Sorgum Primadona Baru Masyarakat Beruas
Foto:Diko

KELAPA, BABEL REVIEW -- Sering mendengar nama “Sorgum”? Nampaknya nama tersebut belum terlalu familiar di telinga sebagian orang, khususnya masyarakat Bangka Belitung.  Tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri memang kini menjadi primadona di sebagian daerah bahkan sebagai bahan pangan sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai.

Menjawab rasa penasaran Anda terhadap tanaman yang menjadi makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara ini, Anda dapat mencarinya di Desa Beruas, Kecamatan Kelapa. Di sini temen-teman dapat melihat bagaimana tanaman sorgum tumbuh dengan baik.

Mulai diliriknya tanaman sorgum ini memang tidak lepas dari peran Desa Beruas. Lewat peran sentral Kepala Desa Beruas Pariyandi, Amd. bersama masyarakat, kini Sorgum telah jadi tanaman unggulan di Desa Beruas dan di pertimbangkan oleh desa-desa lain untuk dikembangkan . Pariyandi, Amd.

menceritakan gebrakan untuk menanam sorgum yang notabene masih sangat jarang terdengar namanya tersebut, bermula tiga tahun lalu saat mereka bertemu dengan tim sorgum provinsi dan berdiskusi mengenai potensi tanaman sorgum. “Awalnya tahun 2016 yang lalu, saya bertemu dengan Tim Sorgum Provinsi Bangka Belitung, kebetulan mereka mencari desa yang mau menanam sorgum.

Setelah berdiskusi kami akhirnya tertarik. Jadi kami coba dengan desa kami dan untuk bibit kami ambil bibit dari Maros, Sulawesi,” ceritanya. Tak disangka ketika dicoba dan panen ternyata sorgum tumbuh sangat baik di Desa Beruas. “Begitu kita coba di Desa Beruas pada saat panen di tahun 2017 malah hasilnya lebih bagus daripada Maros sendiri.

Gumpalnya lebih besar dan saat kami coba timbang satu tangkai sorgum bisa menghasilkan gabah 2,5 ons hingga 3,5 ons,” ujarnya kepada Babel Review. Melihat hasil yang baik, akhirnya Pariyandi dengan tiga teman lainnya mulai tertarik dan mengajak masyarakat untuk menanam sorgum karena hasilnya masih bagus. Setelah itu di akhir tahun 2017 kami bertemu dengan Baznas Provinsi yang punya dana pemberdayaan masyarakat , maka kami dengan Tim Sorgum Provinsi membuat proposal ke Basnaz dan proposal kami diterima,” tambahnya. Setelah proposal diterima untuk ujicoba pengembangan sorgum, Pariyandi langsung melakukan ujicoba di lahan sawah Desa Beruas.

Banyak yang mati dan hanya sekitar 20 persen yang berhasil. Akhirnya di tahun 2018 dilakukan ujicoba dilahan yang lebih kering dan hasilnya memang bagus, tapi sedikit yang menanam karena bersamaan dengan jadwal menanam padi.

“Tapi nantinya akan disesuaikan jadwalnya di mana tanaman sorgum di tanam pasca panen padi. Kebetulan sekali masa tiga kali panen sorgum, cukup tujuh bulan sesuai dengan waktu tunggu menanam ulang padi,” jelasnya. Potensi hasil panen sangat tinggi di mana hasil panen pada tiga bulan pertama dapat menghasilkan empat ton kemudian dua bulan selanjutnya meningkat dua kali lipat menjadi delapan ton.

Ini merupakan peluang menjanjikan yang tentu dampaknya dapat membantu perekonomian warga yang otomatis menambah PAD desa. “Alhamdulilah sinergi antara pemerintah desa, tim sorgum dan BAZNAS membantu merealisasikan

berjalannya penanaman sorgum ini. Begitu juga Taruna Tani Desa Beruas yang bernama Taruna Tani Gunung Galang yang Pemdes Beruas berdayakan untuk menanam tanaman pangan sorgum ini,” katanya lagi.

Dengan peluang seperti ini sorgum bisa jadi primadona baru di tengah masyarakat Bangka Belitung yang rindu inovasi bisnis baru, sehingga bisnis ini memiliki potensi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat. “Harapan saya masyarakat Beruas setelah menanam padi dapat dilanjutkan dengan  menanam sorgum.

Artinya mereka punya swasembada pangan sendiri di rumah dan sorgum bisa menambah pendapatan keluarga apalagi saat ini pengembangan besarbesaran juga dilakukan gubernur di lahan provinsi dan ini menjadi potensi,” ungkapnya. (BBR)


Penulis  : Diko                      
Editor    : Sanjay
Sumber  :Babel Review