Pilkada Bangka Tengah, dari Terkristalisasinya Dua Poros Hingga Potensi Munculnya Paslon Ketiga

faisal
Pilkada Bangka Tengah, dari Terkristalisasinya Dua Poros Hingga Potensi Munculnya Paslon Ketiga
Foto: Ilustrasi Dokumen Babel Review

BANGKA TENGAH, BABELREVIEW.CO.ID -- Memasuki Tahun 2020, sekaligus menandakan akan segera dilaksanakan Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) serentak di 9 Provinsi, 224 Kabupaten dan 37 kota di seluruh Indonesia termasuk Kabupaten Bangka Tengah Provinsi kepulauan Bangka Belitung.

Stategi demi strategi akan segera dibangun masing-masing kandidat pasangan bukan hanya untuk menang di satu wilayah, melainkan upaya terobosan guna membangkitkan kembali kedigdayaan partai.

Masyarakat Bangka Tengah khususnya, menyaksikan bagaimana figur-figur potensial mulai berlomba mendaftarkan diri melalui kendaraan politiknya untuk mendapatkan tiket maju di Pilkada Bangka Tengah.

Sebut saja saat ini ada 11 tokoh yang sudah mendaftarkan diri untuk maju pada pilkada Bangka Tengah, seperti Ibnu Saleh dari Nasdem, Yuliyanto Satin dari Demokrat, Didit Srigusjaya dan H. Korari dari PDIP, Patrianusa dari PAN, Jhohan Ardi dari Gerindra serta Tasmin Tamsil, Dr. Sartoni dan Ahmad Fikri dari Golkar, belum ditambah PPP yang sedang menggodok kader internal untuk ikut meramaikan pesta demokrasi serentak tersebut.

Namun dari banyaknya figur tersebut, hanya memunculkan Dua poros terkuat yang diperkirakan akan bertarung pada pilkada tahun ini yaitu Didit Srigusjaya yang menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi dari PDIP dan Ibnu Saleh sebagai petahana yang menjabat Bupati Bangka Tengah dari Partai Nasdem.

Dosen Tetap Jurusan Ilmu Politik Fisip UBB, Ibrahim mengatakan, dengan munculnya dua figur utama yakni Didit Srigusjaya dan Ibnu Saleh, akan membuat kondisi Pilkada di Bangka Tengah menjadi terkristalisasi ke Dua Kubu tersebut.

"Bangka Tengah akan menjadi pilkada yang sangat menarik karena akan mengkontestasikan Dua figur utama yang paling kuat diantara yang lain karena masing-masing memiliki jabatan politik yang strategis didalam kepemerintahan,"ujarnya kepada Babel Review, Kamis (9/1/2020).

Sambungnya, terkristalisasinya situasi yang hanya menampilkan Dua kubu tersebut sangat dipengaruhi karena kekhawatiran kandidat lain ketika harus membentuk poros baru.

"Situasi terkristalisasinya menjadi Dua kubu ini memang tidak akan membuat nyaman kandidat lain, karena setiap paslon yang maju pasti ingin menang, namun dengan kondisi kuatnya Dua poros tersebut membuat potensi munculnya poros ketiga menjadi tidak seksi lagi,"ungkap Ibrahim.

Namun ia menuturkan, situasi yang sudah terkristalisasi menjadi Dua poros ini belum bisa menjamin benar-benar terjadi menjelang pendaftaran. Dengan kondisi politik yang sangat fleksible dan dinamis ini, masih bisa memungkinkan munculnya poros baru bila salah satu partai pemenang pada Pileg kemarin yakni PDIP tidak mengusung calon terkuatnya yaitu Didit Srigisjaya atau penujukan wakil yang dipilih untuk mewakili Didit Srigusjaya tidak mewakili parpol lain dalam kata lain mengambil dari kalangan internal sendiri.

"Politik ini sangat dinamis, walaupun sudah terkristalisasi menjadi Dua poros namun permainan last minute yang ditampilkan kedua kubu justru menjadi senjata agar lawan politiknya terkecoh, dan ini bagian dari strategi politik, Jadi siapa saja yang memantapkan koalisi sejak awal justru akan beresiko karena bisa ketahuan arah politiknya seperti apa,"ucapnya.

Anggap saja sekarang yang dipakai isu yang paling santer terkait wakilnya yakni Didit berpasangan dengan H. Kora dan Ibnu Saleh dengan Herry Erfian, ibrahim megatakan akan membuat pertarungan pilkada Bangka Tengah menjadi sangat menarik karena menampilkan Empat figur yang mempunyai basis dukungannya masing-masing. 

"Bila pilkada Bangka Tengah diisi oleh Empat figur tersebut dipastikan sangat menarik karena akan menampilkan perang habis-habisan dari kedua kubu, dari Didit Srigusjaya yang kita tau track recordnya yang memenangi legislatif 3 periode dengan jumlah suara yang selalu naik berpasangan dengan H. Kora yang mempunyai basis didapilnya karena sudah Empat periode menjadi anggota dewan, sedangkan dari kubu lawan Ibnu Saleh merupakan petahana yang menjabat posisi strategis sebagai Bupati Bangka Tengah ditunjang dengan Harry erfian yang pernah menang sebagai anggota DPD RI, ditambah berasal dari keluarga gubernur,"jelasnya.

Ibrahim menerangkan, kedua poros akan habis-habisan agar bisa memenangi pertarungan, terutama Didit srigusjaya yang berani mengambil resiko besar dengan meninggalkan jabatannya sebagai Ketua DPRD Provinsi demi maju pada pilkada Bangka Tengah 2020.

"Justru dengan potensi kuatnya Dua poros ini, saya menyarankan agar KPU dan lembaga pengawas benar-benar memastikan bahwa situasi tetap stabil, karena saya memprediksi kuatnya persaingan Dua kubu ini akan menciptakan keterbelahan masrayakat menjadi luas sehingga akan membahayakan kohesi sosial di masyarakat,"pungkasnya. (BBR)


Penulis   : Faisal

Editor      : Admin03

Sumber  : Babel Review