Pemkab Bateng Targetkan 1000 Kolam Lele

Admin
Pemkab Bateng Targetkan 1000 Kolam Lele
Foto :Diko

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW - kemajuan teknologi mengarahkan kita untuk terus berinovasi, termasuk  pemerintah daerah. Saat ini perkembangan teknologi jika mampu dimanfaatkan dengan baik dapat sangat bersinergi dengan program kerja pemerintah daerah khususnya inovasi di bidang-bidang yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal inilah yang saat ini dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemkab Bangka Tengah.

Melihat begitu besar potensi dalam bidang perikanan khususnya budidaya lele,  DKP Bateng terus berinovasi dengan menggelontorkan program 1000 kolam lele. Kabid pembudidayaan perikanan, DKP Bangka Tengah Imam suhadi, mengatakan sistem bioflok lele merupakan salah satu terobosan yang sangat baik di era modern saat ini karena sangat banyak manfaat yang diperoleh jika membudidayakan lele dengan sistem bioflok, terutama terkait dengan peningkatan produktifitas.

"Ya saat ini kita sedang mengembangkan komoditas lele jumbo dengan nama bioflok lele.  Memang saat ini menjadi teknologi baru di bidang perikanan dan budidaya, dengan harapan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya di pedesaan," jelasnya. Imam mengatakan, sekarang sistem ini cukup efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, mengingat sistem bioflok tidak memakan banyak biaya.

"Banyak kelebihan dari sistem bioflok ini, disamping biaya yang murah sistem bioflok dapat diterapkan di lahan sempit dan produktifitasnya tinggi," ungkapnya. Kedepan Ia mengatakan pihaknya memang memiliki rencana untuk mengembangkan sistem bioflok agar lebih besar lagi. Nantinya  sistem ini akan  dikembangkan termasuk komunitas perikanan yang  tergabung dalam bioflok lele tersebut.

"Saat ini kita memiliki dua lokasi untuk sistem bioflok yang pertama  Kelurahan Berok dan Desa Tanjung Gunung, Pangkalan Baru, dengan total yang telah kita launching ada 15, untuk masyarakat 10 dan 5 di balai perikanan kita," ujarnya. Untuk pengelolaannya sendiri langsung melibatkan masyarakat dengan menghimpun warga dalam wadah kelompok yang bernama "pokdakan" dimana satu kelompok terdiri dari 10 orang anggota yang terdiri dari 10 keluarga.

"Satu anggota keluarga akan diberikan satu bak, harapannya dapat dikelola dengan baik agar menjadi pendapatan juga untuk keluarga tersebut," tambahnya. Awalnya dana untuk mengelola kolam diperoleh dari bantuan pemerintah, yang mana sebelumnya pemkab memberikan bantuan berupa 10 bak bundar.

Tahun ini dikembangkan melalui  dua paket yakni dari alokasi khusus BAK dan APBN. Imam mengungkapkan, pemasaran lele sangat prospektif mengingat kebutuhan masyarakat Bangka Beltung per harinya sangat tinggi.

"Di Bangka Belitung kebutuhan per hari mencapai 2 atau 3 ton bahkan bisa 5 ton sementara kemampuan kita di bawah itu. Oleh karenanya dengan menggunakan bioflok yang secara produktifitas lebih tinggi semoga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan saat ini kita masih mengoptimalkan pasar yang ada di Pulau Bangka, meliputi Bangka Induk, Pangkalpinang, Bangka Barat dan Bangka Selatan," ungkap Imam.

Imam melanjutkan,  untuk produksi sendiri dengan satu bak bundar diameter dua meter bisa mencapai dua ratus kilo dengan masa pertumbuhan dua sampai tiga bulan,  dengan pendapatan bersih mencapai 2 juta rupiah per bulan untuk satu bak. Imam juga berharap kedepan sistem ini dapat terus dikembangkan  sehingga program 1000 kolam lele tersebut dapat terealisasikan dalam kurun waktu maksimal lima tahun mendatang. (BBR)


Penulis :Diko
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview