Nelayan Sebut Pengerukkan Alur Muara Air Kantung Tidak Memuaskan

kasmirudin
Nelayan Sebut Pengerukkan Alur Muara Air Kantung Tidak Memuaskan
Kondisi muara Air Kantung yang dilakukan pengerukkan oleh PT. Pulomas masih terlihat dangkal yang membuat kapal nelayan kesulitan keluar masuk muara. (Foto: Ibnu)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID -- Nelayan muara Air Kantung Pelabuhan Jelitik Sungailiat, menyebut pengerukan yang dilakukan oleh PT. Pulomas tidak berdampak positif banyak pada nelayan. Hal tersebut disebabkan karena masih saja sering terjadi adanya pendangkalan di muara Air Kantung tersebut.

Melihat kondisi seperti itu Komunitas Jurnalis Sepintu Sedulang mendatangi lokasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat, untuk menanyakan langsung kepada nelayan setempat mengenai kondisi alur muara Air Kantung.

Ketika berbicara dengan rekan-rekan Jurnalis Sepintu Sedulang, Samsul Ma'arif (46) mengatakan, jika saat ini masih saja mengalami kesulitan kapalnya masuk ke Pelabuhan Jelitik. Karena adanya pendangkalan di muara Air Kantung. Kapal milik Samsul jika ingin melintas di muara masih menunggu air laut pasang.

"Kondisi muara sekarang bisa dikatakan mengecil dan dangkal, kalau dilihat hari ini kelihatan lebar tetapi sebenarnya itu dangkal. Disini kalau tabel air menunjukkan angka di bawah 19 atau 20, kapal 20 GT seperti punya saya tidak dapat keluar masuk," jelasnya, Selasa (28/8/2019).

Terkait dengan adanya pengerukan muara yang dilakukan oleh PT. Pulomas, dia menyebutkan, jika perusahaan tersebut memang bekerja melakukan pengerukan tetapi karena pasirnya diletakkan di bibir kanan kiri itu yang menjadi salah satu permasalahan.

"Karena jika datang arus gelombang yang besar pasir yang ditumpuk itu akan longsor dan masuk lagi di muara. Istilahnya, gelombang yang datang menurunkan pasir 5 ton tetapi pihak perusahaan hanya bisa mengeruk 1 ton, jadi ini tidak seimbang," kata Samsul, yang telah menjadi nelayan sejak tahun 1990.

Samsul menegaskan, bahwa pihaknya tidak puas dengan adanya pengerukkan tersebut. Karena  pendangkalan masih saja terjadi setiap tahunnya. Menurutnya, pengerukkan yang sekarang dilakukan beda jauh dengan pengerukan yang dilakukan oleh PT. Timah pada tahun sebelum tahun 1994.

"Saya pribadi tidak puas dengan keadaan muara yang saat ini, apalagi sekarang ditambah lagi dengan adanya kapal milik PT. Pulomas yang ada di depan muara itu, sudah muara kecil ditambah lagi ada kapal didepannya jadi membuat perlintasan semakin sempit," katanya.

Ketua Jurnalis Sepintu Sedulang, Ibnu Indro Wasisto mengatakan, seharusnya pihak perusahaan yang melakukan pengerukan alur muara tersebut harus lebih memaksimal lagi kinerjanya.

"Kedatangan kita ke pelabuhan ini untuk bertemu langsung dan bicara kepada nelayan untuk mendengar apa yang mereka rasakan terkait kondisi alur muara itu. Ternyata mereka masih mengeluh, karena muara tersebut masih sering terjadi pendangkalan," ujarnya.

Ia mengharapkan, agar perusahaan yang bersangkutan dapat lebih maksimal dalam melakukan pengerukan alur muara tersebut.

"Untuk pemerintah daerah paling tidak harus lebih optimal lagi dari segi pengawasan, yang jelas peran pemerintah daerah dalam hal ini sangatlah besar," pungkasnya. (BBR)


Penulis  : Ibnu
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review