Mulai Oktober 2019 Belitung-Malaysia Mulai Digoda Air Asia, Begini Ceritanya  

Admin
Mulai Oktober 2019 Belitung-Malaysia Mulai  Digoda Air Asia, Begini Ceritanya   
Foto: IST Dok.Air Asia

 PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID – Belitung memiliki potensi pariwisata yang sangat luar biasa dan merupakan satu dari kawasan 10 Bali baru yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat. Apalagi Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjungpandan, Belitung sudah dikembangkan menjadi bandara internasional.

Untuk menggenjot sektor pariwisata, ketersediaan aksesbilitas menjadi kunci utama. Beberapa rute penerbangan internasional pernah dilakukan, seperti maskapai Garuda Indonesia yang pernah membuka rute penerbangan langsung Belitung – Singapura.

Pada awal Oktober 2019 lalu maskapai penerbangan Air Asia resmi mengudara di Belitung. Pada 1 Oktober 2019, Air Asia resmi membuka rute Belitung – Jakarta (pp) dan pada2 Oktober 2019 dibuka penerbangan internasional langsung Belitung – Kuala Lumpur, Malaysia (pp).

Bahkan dalam acara peresmian rute penerbangan Air Asia Belitung – Jakarta dan Belitung – Kuala Lumpur pada Agustus 2019 lalu, CEO Air Asia Veranita Yosephine menawarkan harga promo untuk rute Belitung –  Jakarta harga tiket Rp 294.000 dan 2 Oktober 2019 rute Belitung – Kuala Lumpur Rp 299.000.

Dalam kesempatan tersebut Veranita Yosephine mengatakan bahwa Air Asia merupakan maskapai yang banyak membawa wisatawan mancanegara untuk berlibur ke Indonesia. Dengan begitu harapannya semua orang bisa terbang ke Belitung dan menjadi upaya dan kontribusi terhadap kemajuan pembangunan pariwisata di Indonesia khususnya di Belitung.

 

Lobi Gubernur Erzaldi

Kepala Bagian Ekonomi Biro Perekonomian Setda Provinsi Bangka Belitung Ahmad Yani menceritakan bagaimana upaya Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman dalam melobi CEO sekaligus Executive Chairman Air Asia Malaysia Datuk Kamarudin Meranun disela-sela kunjungan kerja Pertemuan Tingkat Menteri Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-24 di Melaka, Malaysia yang berlangsung November 2018 lalu.

Saat itu, Gubernur Erzaldi dipercaya oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk menjadi Ketua Delegasi dari Indonesia dalamForum Pertemuan Tingkat Gubernur atau Chief Ministers and Governors Forum (CMGF).

“Agenda kegiatan itu diikuti dengan bertemu beberapa pengusaha di Malaysia dan kami minta izin menjadwalkan Gubernur bertemu dengan Owner Air Asia Datuk Kamarul Meranun yang pada saat itu baru tiba dari London dan beliau bersedia menerima Gubernur dengan senang hati dan hormat,” ungkap Yani.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Erzaldi menyampaikan keinginan agar maskapai Air Asia bisa melayani penerbangan internasional langsung dengan membuka rute Belitung – Kuala Lumpur. Hasilnya Gubernur Erzaldi dan CEO Air Asia Datuk Kamarul Meranun sepakat untuk menjajaki kerja sama agar Air Asia dapat melayani penerbangan langsung dari Tanjungpandan, Belitung – Kuala Lumpur, Malaysia (pp).

“Alhamdulillah kami disambut oleh Owner Air Asia dan beliau dengan senang hati untuk menerbangi jalur Kuala Lumpur – Tanjungpandan. Alhamdulillah sudah dapat direalisasikan, sebelumnya kita juga menginginkan adanya penerbangan yang lainnya,” ujar Yani.

Dikatakan Yani, tujuan Air Asia masuk ke Provinsi Bangka Belitung untuk mengembangkan daerah, khususnya Belitung yang memiliki Bandara HAS Hanandjoeddin bertaraf internasional sudah seharusnya dimanfaatkan dengan maksimal. Tidak sampai setahun dari pertemuan Gubernur Erzaldi dengan CEO Air Asia, kini Bandara HAS Hanandjoeddin melayani penerbangan internasional langsung.

“Mudah-mudahan ke depan tidak berhenti dan pelan-pelan Air Asia terus menerbangi (rute internasional). Karena operator penerbangan ini lebih efisian sehingga bisa bersaing di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara khususnya dan bahkan Asean dan negara Asia lainnya,” katanya. Kedepannya diharapkan Air Asia bisa membuka rute penerbangan domestik di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Dikatakannya dengan dibuka penerbangan internasional yang diuntungkan adalah sektor pariwisata. Apalagi Belitung, dikatakan Yani, sejak kepemimpinan Eko Maulana Ali sudah dicanangkan menjadi daerah pembangunan dan pengembangan pariwisata. Bila sektor pariwisata maju maka bisa mendukung sektor ekonomi lainnya bahkan berhubungan dengan 700 sektor yang ada.

“Jadi meskipun masuknya dari sektor pasriwisata namun sektor lainnya akan mendapatkan dampaknya kena multiplier effect-nya. Kita harapkan pertumbuhan ekonomi yang didukung sektor pariwisata akan sedikit demi sedikit bertambah walaupun sebelumnya mengalami turbulensi (guncangan) harga tiket pesawat dan saya pikir seluruh Indonesia juga mengalami turbulensi,” sebutnya.

Sejak awal Oktober 2019 Air Asia resmi mengudara di Belitung dikatakan Yani, okupasi belum maksimal namun Yani yakin dengan pemasaran dan sistem marketing serta efisiensi maskapai maka rute penerbangan ini akan semakin dikenal dan Air Asia menjadi pilihan penumpang pesawat pulang pergi ke Belitung.

“Citilink juga akan membuka jalur pagi jam 6.30 WIB dari Jakarta-Pangkalpinang dan 8.30 WIB Pangkalpinang-Jakarta. Ini menambah rute jadwal baru dan akan berefek pada perekonomian kita. Kita juga berusaha maskapai penerbangan lain masuk ke Babel seperti Silk Air dari Singapura ada Malindo Air. Kita berusaha lagi Garuda untuk membuka rute kembali Singapura – Tanjungpandan. Kita buka peluang lagi kepada maskapai lainnya,” ujar Yani.

Sebagai provinsi kepulauan yang memiliki tantangan aksesbilitas, Yani mengatakan bahwa 80 persen kebutuhan ekonomi strategis Bangka Belitung dipasok dari luar daerah, seperti Sumatera dan Jawa melalui jalur laut dan udara. Untuk itu pemerintah harus memperbaiki moda trasportasi, baik darat, laut maupun udara. Bila aksesbilitas terganggu maka akan ada dampak bagi perekonomian daerah, seperti harga kebutuhan tidak stabil dan terjadi lonjakan inflasi.

“Karena Bangka Belitung terkenal dengan wilayah pertambangan dan seperti diketahui wilayah pertambangan secara teorinya biasanya inflasi akan mudah dan apabila pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari pada inflasi secara tidak langsung akan berefek pada tingkat kesejahteraan masyarakat karena inflasi yang tinggi. Memang kita terus berusaha meningkatkan trasportasi,” katanya.

Untuk meningkatkan aksesbilitas salah satunya dengan membangun jembatan Bangka – Sumatera (Batera). Yani mengatakan wacana membangun jembatan tersebut harus terus didukung karena bisa meningkatkan perekonomian dan daerah dan harga kebutuhan bisa dengan mudah dikendalikan. Selain itu, transportasi laut Gubernur, Walikota dan Kementerian Perhubungan berencana memindahkan Pelabuhan Pangkalbalam. Dengan kapasitas pelabuhan yang lebih bersar tentu saja akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian.

“Kita memperbaiki sarana tersebut, akses perlu kita luaskan, kita tingkatkan kualitasnya, keamanannya, dan di IMT-GT akan ada kapal cruise (kapal pesiar) yang akan masuk dari beberapa negara itu tujuannya ke Belitung dan ke Bangka. Kapal cruise ini membawa 3000-4000 penumpang tentunya akan berdampak positif bagi industri pariwisata dan multiplier effect-nya bagus untuk sektor lainnya,” katanya.

Yani optimis bahwa Air Asia akan digunakan wisatawan yang masuk ke Malaysia menuju ke Belitung serta bisa berlanjut ke Bangka karena banyak wisatawan dari berbagai negara menggunakan Air Asia untuk berpergian dan melancong ke berbagai daya tarik wisata. Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan promosi pariwisata terutama di Malaysia agar pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung dapat meningkat.

“Dengan adanya Air Asia kita harapkan pertumbuhan ekonomi masyarakat kita akan stabil lagi karena memang kesejahteraan masyarakat harus kita upayakan semaksimal mungkin,” harapnya. (BBR)