Mental Seorang Accounting Ketika Menggunakan Uang Ekstra “Bonus”

kasmirudin
Mental Seorang Accounting Ketika Menggunakan Uang Ekstra “Bonus”
Linda Desinta. (Foto: Istimewa)

BAYANGKAN ketika Anda menerima uang dari bonus pekerjaan, apakah Anda akan cenderung menghabiskan uang tersebut atau menyimpannya di dalam tabungan? Faktanya, kebanyakan orang akan membelanjakannya, dan itu karena akuntansi mental.

Akuntansi mental mengacu pada perbedaan setiap individu mengklasifikasikan dana atau uang terhadap pengambilan keputusan dalam pengeluaran yang tergantung pada sumbernya. Untuk menghindari bias akuntansi mental, setiap individu harus memperlakukan uang secara sepadan ketika mengalokasikannya terhadap pengeluaran. Mereka juga harus menghargai setiap rupiah yang diperoleh melalui kerja atau diberikan (hadiah).

Akuntansi mental digunakan untuk mencoba memahami sesuatu dan memberikan makna terhadap apa yang kita lakukan, tetapi sering kali didorong secara emosional. Sehingga menyebabkan keputusan yang tidak logis atau bahkan dapat merusak.

Thaler (1980) mengemukakan tentang akuntansi mental ini terjadi di mana seseorang membuat pemikiran yang menyerupai cara sebuah organisasi atau perusahaan dalam membuat sistem akuntansi untuk mengelola keputusan keuangan yang akan dilakukan. Perlakuan akuntansi tersebut ternyata memang benar akan mempengaruhi para individu dalam membuat keputusan keuangannya, dimana ada banyak kebutuhan dalam pemikiran seseorang saat mengelola uang.

Contohnya: Bonus

Setiap individu akan merasa sangat bahagia jika mendapatkan bonus dalam jumlah yang besar. Namun, Jumlah penghasilan yang didapat dari bonus akan disesuaikan dengan kinerja terhadap perusahaan selama setahun belakangan. Jika memiliki prestasi kerja yang luar biasa selama setahun tersebut, maka jumlah bonus yang didapatkan juga akan lumayan besar.

Kapanpun ketika kita menerima uang seperti bonus, kita akan cenderung membelanjakannya dengan lebih sembrono daripada saat menerima gaji. Ketika uang tersebut didapatkan, dengan tidak adanya rencana, kita akan melihatnya sebagai “uang ekstra” dan membelanjakannya sesuai dengan keinginan. Dengan melakukan hal itu, kita mungkin akan mengabaikan keperluan yang dibutuhkan, seperti: dana darurat, bunga kartu kredit, tabungan, hutang. Namun akuntansi mental membuat kita berpikir bahwa kita harus menggunakan uang itu, dan semakin kita menghabiskannya, akan semakin baik.

Hal ini terbukti di daerah Bangka Belitung, dimana daya konsumsi masyarakatnya sangat besar ketika mendapatkan uang ekstra. Sebab, ekspetasi masyarakat mengatakan akan menerima pemasukan tambahan mendorong rencana belanja. Ketika individu tidak mendapatkan uang ekstra, maka anggaran untuk rencana belanja mereka akan menjadi terbatas. Atas peningkatan konsumsi tersebut, sektor-sektor perdagangan biasanya akan mendapatkan angin segar. Namun perlu diingat imbas itu bisa menjadi tidak optimal jika pemerintah tidak bisa mengendalikan inflasi.

Berbagai hal inilah yang membuat alokasi penghasilan tidak memberikan dampak maksimal dalam keuangan. Padahal, jika direncanakan dengan baik, ada banyak hal berguna lainnya yang bisa dilakukan dalam keuangan, dengan memanfaatkan bonus itu. Alih-alih melihat bonus sebagai “uang ekstra” dan menggunakannya untuk keperluan yang tidak penting, lebih baik melihatnya sebagai uang yang dibutuhkan (untuk pembayaran rumah, tambahan tabungan, pembayaran hutang, atau untuk pengeluaran besar yang tidak terduga).

Menurut Candra Sari (2018) dalam bukunya Akuntansi Keprilakuan, mental accounting sebenarnya bisa memiliki dampak positif untuk membantu individu mengalokasikan pendapatan dan beban. Ada beberapa alasan mengapa akuntansi mental dapat mengarahkan individu kepada kondisi yang kurang menguntungkan. Alasan pertama terkait alokasi yang berbeda terhadap suatu penghasilan yang diperoleh secara rutin (gaji). Individu akan cenderung lebih berhati-hati dengan penghasilan yang diperoleh secara rutin karena merasa penghasilan rutin didapat dari kerja keras. Alasan berikutnya terkait dengan perlakuan setiap individu yang berbeda terhadap sumber penghasilan tersebut.

Datang dengan mudah tidak berarti pergi dengan mudah. Hanya karena uang ekstra mungkin datang tanpa usaha, bukan berarti kita harus membiarkannya begitu saja. Ketika kita tahu apa yang harus dicari, dilakukan, kita akan mulai melihat akuntansi mental dalam kehidupan kita sendiri dan kita akan mulai mendengarkan cara orang lain berbicara yang mungkin akan menjadi bantuan. Menginvestasikan beberapa detik upaya untuk secara mental menggunakan kembali uang ekstra untuk tujuan yang berbeda dapat menyebabkan keputusan terhadap keuangan menjadi lebih sehat. (BBR)


Penulis  : Linda Desinta (Mahasiswi Jurusan Akuntansi Universitas Bangka Belitung)

Editor    : Kasmir

Sumber : Babel Review