Mangrove Cinta Kurau Barat

Admin
Mangrove Cinta Kurau Barat
alam hutan mangrove Bangka BaratFoto:Fierly

KOBA, BABEL REVIEW – Demi  menyelamatkan lingkungan, ia selalu hadir menyatu dengan alam hutan mangrove. Menelusuri sungai dan menerobos rimbunnya tanaman mangrove sudah menjadi aktivitasnya selama belasan tahun. Pada lahan kritis, ia mengadopsi bibit mangrove yang ditanam, dipelihara dan dijaga hingga tumbuh dewasa.

Adalah Yasir, pegiat lingkungan kebanggaan Bangka Belitung karena berkat kerja keras dan perjuangan menyelamatkan hutan mangrove dari kerusakan telah mengantarkannya masuk dalam nominasi penerima Penghargaan Kalpataru 2019 kategori perintis lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penghargaan Kalpataru merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, menyalamatkan dan membina upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan. Untuk kategori perintis lingkungan diberikan kepada warga masyarakat, bukan pegawai negeri dan bukan pula tokoh dari organisasi formal, yang berhasil merintis pengembangan dan melestarikan fungsi lingkungan hidup secara menonjol luar biasa dan merupakan kegiatan baru sama sekali bagi daerah atau kawasan yang bersangkutan.

“Sebenarnya sudah dua kali menjadi nominator Kalpataru pada 2018 dan 2019. Cuma tahun 2018 itu bertabrakan dengan (penghargaan) Wana Lestari jadi Kalpataru itu dinominasi pertama 2018 dan tahun ini masuk nominasi kembali,” ujar Yasir yang ditemui di kediamannya yang terletak dekat dengan Mangrove Munjang.

Sebelum masuk nominasi, dijelaskan Yasir, tim yang dibentuk oleh KLHK melakukan tahap penilaian yang sangat mendetail. Selain dilakukan wawancara tim penilai juga melihat apa yang telah dikerjakan oleh Yasir dan kawan-kawan. Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa dan peneliti juga tak luput dari perhatian tim penilai. “Saat diundang ke Jakarta saya bersyukur bisa bertemu langsung dengan orang-orang hebat yang menjadi nominasi juga.

Ada yang konservasi orang utan, lalu ketemu dengan orang yang mengolah energi listrik dari sumber hutan. Saya sebenarnya belum apa-apa tetapi saya dimasukan dalam nominasi itu sangat luar biasa. Makanya kalau ingin masuk dalam nominasi Kalpataru harus sudah memiliki aksi nyata selama 10 tahun,” ungkapnya. Langkah demi langkah, tahap demi tahap, waktu demi waktu sudah dilaluinya dengan penuh harapan.

Dimata Yasir, Hutan Mangrove Munjang yang terletak di Desa Kurau Barat, Kecamatan Koba, Bangka Tengah adalah sebuah potensi besar dan masa depan. Ia hanya ingin ketika anaknya besar dan generasi selanjutnya dapat belajar mengenal alam dimulai dari hutan mangrove. “Targetnya saya ingin anak saya bisa melihat mangrove saat sebesar saya. Makanya saya dengan kawankawan yang memiliki semangat dan motivasi yang sama kami melakukan ini semua,” ujarnya. Titik awalnya ketika terjadi musibah gemba dan tsunami di Aceh pada 2004 silam.

Ia melihat kawasan pesisir yang ditumbuhi mangrove dan tidak ditumbuhi mangrove sangat jauh berbeda kondisinya. Dari musibah tersebut ia belajar bahwa mangrove terbukti dapat meredam gelombang tsunami. Melihat pentingnya manfaat hutan mangrove, menggerakan dirinya bersama Komunitas Gerakan Muda Pecinta Alam (Gempa 01) untuk mengembalikan kondisi hutan mangrove di Desa Kurau Barat dan Desa Kurau Timur yang saat itu rusak parah hingga mencapai 40 hektar.

 Kerusakan akibat limbah pertambangan dari desa tetangga yang terbawa aliran sungai dan membentuk sedimantasi di hutan mangrove. “Akibat sedimentasi itu 40 hektar tanaman mangrove banyak yang mati. Kalau tidak secepatnya direhabilitasi maka akan terus meluas kerusakannya,” kata Yasir. Selama kurun waktu tahun 2004 hingga 2010, Yasir bersama Gempa 01 berhasil merehabilitas lahan kritis seluas 40 hektar tersebut. Tak mudah perjuangannya, mereka harus menggunakan sistem penanaman mangrove menggunakan bambu masing-masing memiliki panjang 6 meter yang diberi lubang dan ditancap.

Ketika pasang surut air laut, pasir limbah pertambangan akan menumpuk di dalam bambu setelah dua minggu, itu artinya bibit mangrove dapat ditanam karena ada fermentasi sedimen dan bambu. “Sedimen itu pada saat kondisinya surut terendah dan terkena panas mengakibatkan limbah pertambangan itu akan mengeras seperti semen, sedangkan mangrove punya akar hisap untuk bernapas di dalam air namun karena tidak bisa menembus sedimantasi karena pengerasan maka akar mangrove bergelantungan dan terjadi pembusukan dari bawah,” jelasnya.

 Selain itu, dijelaskan Yasir, penggunaan bambu dapat menghalau teritip (sejenis kerang) yang sering hinggap dan berkumpul di batangbatang tanaman mangrove. Jika batang dipenuhi oleh teritip menjadi bahaya bagi mangrove karena dapat menghambat akar hisap lalu menyebabkan matinya tanaman mangrove. Semenyara itu, Sekertaris Desa Kurau Barat Sandi mengatakan pihaknya selama ini mendukung pengembangan hutan mangrove untuk dikelola sebagai ekowisata. Selain sebagai daerah tujuan wisata juga bermanfaat sebagai tempat edukasi pelajar dan penelitian mahasiswa.

“Kami dari Pemdes Kurau Barat sangat mendukung karena swadaya mereka untuk melestarikan hutan. Bentuk dukungan Pemdes yakni dibidang pembangunan seperti pembangunan jalan dan area parkir,” ujar Sandi. Mengenai prestasi Yasir yang telah masuk dalam nominasi penerima Penghargaan Kalpataru 2019 kategori perintis lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pihak Pemdes sangat bangga karena telah mengharumkan nama daerah khususnya Desa Kurau Barat di tingkat nasional.

“Pasti bangga ada pemuda di desa kita dapat penghargaan dari kementerian langsung. Ini membuat harum nama desa ditingkat nasional,” sebutnya. Sandi juga mengatakan bahwa dengan dibukanya wisata hutan Mangrove Munjang, banyak memberi dampak yang baik bagi desa dan masyarakat. Sandi menjelaskan dampak baiknya yaitu nama desa semakin terkenal dan dengan banyaknya orang yang berkunjung maka menjadi keuntungan bagi masyarakat khususnya pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). “Masyarakat disini juga kalau liburan tidak perlu jauh-jauh lagi ke daerah lain dan yang pasti kami menunggu ide dari pengelola selanjutnya ,” ujarnya. (BBR)


Penulis  : Irwan
Editor    : Sanjay
Sumber : Babel Review