Lama Tidak Berkabar, Ternyata BUMD PT. B3S Sedang Menjaring Banyak Investor

kasmirudin
Lama Tidak Berkabar, Ternyata BUMD PT. B3S Sedang Menjaring Banyak Investor
ilustrasi.

PANGKALPINANG,  BABELREVIEW.CO.ID -- Sejak dilantik sebagai Direktur Utama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT. Bumi Bangka Belitung Sejahtera (B3S) pada Februari 2019 lalu, Prof Saparudin diam-diam telah mengembangkan sayap perusahaan dalam berbagai bidang. Tak tanggung-tanggung, belasan usaha mulai dari usaha kecil hingga proyek multi year digarapnya. Ada yang sudah berjalan dan sebagian sedang berproses.

Pada dasarnya BUMD dibangun memiliki dua fungsi, yakni murni berbisnis untuk menghasilkan provit, dan turut serta melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya, dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Prof. H. Saparudin MT. Ph.D atau yang akrab disapa Bang Udin, mantan calon wali kota Pangkalpinang ini mengatakan, dirinya sejak dilantik sebagai Dirut PT B3S mendapat arahan dari Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman, untuk secara mandiri mengembangkan bisnis investasi dengan modal memanfaatkan potensi daerah atau sumber daya yang ada dan tidak bergantung pada pemerintah daerah.

Dari sana Bang Udin mulai mencari peluang-peluang dengan memanfaatkan kedudukan sebagai perusahaan daerah yang tentunya didukung oleh pemerintah daerah, mendapat kemudahan perizinan dan diberikan kepercayaan untuk mengelola aset daerah.

Bang Udin juga menebar jaringan dalam dan luar negeri untuk mengundang investor. Dirinya pun banyak disibukkan memperkenalkan peluang bisnis di Bangka Belitung, kepada para investor dalam sebuah forum maupun bertemu langsung dengan para investor dalam berbagai pertemuan.

“Jadi sesuai dengan araham Pak Gubernur Erzaldi, BUMD ini lebih ke arah investasi bukan seperti yang selama ini dalam bidang perdagangan. Yang kedua BUMD ini sebenarnya memiliki dua fungsi yakni murni bisnis dan yang kedua bisa mendapat penugasan untuk melakukan bisnis yang mendukung program pemerintah. Kalau murni bisnis investasi kita akan menghitung misalnya return on investment secara detail, kita hitung cukup tiga tahun sudah kembali modal. Namun kalau program pemerintah ini sepuluh tahun belum tentu balik modal, tetapi harus kita bantu jalankan,” jelas Udin.

Bang Udin memang bertangan dingin. Beberapa investor dari dalam maupun luar negeri berhasil dirangkulnya. Tak hanya perusahaan besar, Bang Udin juga menggandeng pelaku Usaha Mikro, kecil dan Menengah (UMKM), untuk bersama-sama mengembangkan usaha sebagai upaya membantu program pemerintah daerah.

Kepada Babel Review, Bang udin memaparkan berbagai kegiatan usaha yang tengah ia bangun. Yang pertama adalah PT. B3S sebagai penyelenggara pelabuhan dan pelayanan jasa kepelabuhan, pelabuhan pengumpan regional yang terletak di Tanjung Tuing, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka.

Dikatakan Udin, pelabuhan tersebut memang belum beroperasi. Namun izin dari pemerintah pusat sudah keluar, baik feasibility study (studi kelayakan), izin penyelenggaraan dan izin lokasi sudah selesai. Sekarang sedang tahap penyusunan Amdal.

“Sebenarnya Dinas Perhubungan bisa menjadi penyelenggara, namun ini pihak BUMD yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai penyelenggara. Ini belum beroperasi efektif, karena sedang proses Amdal, setelah itu kita tinggal mengajukan ke Gubernur untuk izin pembangunan dan pengoperasiannya,” katanya.

Kedepannya setelah pelabuhan berjalan dengan baik, maka PT. B3S akan membentuk anak perusahaan yang khusus mengurus Pelabuhan Tanjung Tuing.

“Kami diminta oleh Gubernur dan DPRD untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dengan bekerja sama dengan pihak lain. Nanti pemerintah akan mendukung dalam perizinan. Jadi yang disepakati oleh pemerintah daerah adalah perusahaan ini nanti bentuknya holding yang induknya adalah PT. B3S yang membawahi anak perusahaan. Maka sekarang kita create dulu pekerjaan-pekerjaannya,” papar Udin.

Selanjutnya PT. B3S mengelola konsesi lahan seluas 15 hektare di Kawasan Industri Sadai, Bangka Selatan. Konsesi lahan tersebut diberikan kepada PT. B3S untuk menarik investor, agar berminat membangun industri hilir. Lahan seluas 15 hektare tersebut bisa digunakan untuk membangun sebanyak lima industri, dimana sudah ada sebuah perusahaan asal China yang telah sepakat untuk membangun usaha. Selain di dalam lahan konsesi, PT. B3S juga telah berhasil mengundang dua perusahaan untuk membangun industri di luar lahan konsesi, namun tetap di dalam Kawasan Industri Sadai.

“Jadi sudah ada satu perusahaan yang masuk di kawasan konsesi dan di luar kawasan ada dua perusahaan. Jadi yang sekarang sudah MoU ada tiga. Dengan Sinomex perusahaan mesin berat dari China. Sinomex investasi untuk tin solder powder yaitu bahan baku untuk solder pasta/cair,” jelasnya.

PT. B3S bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan untuk membangun pabrik biodiesel B 100 di Kawasan Industri Sadai. Biodiesel B 100 menggunakan bahan baku Miko (minyak kotor). Miko adalah minyak limbah dari sisa pengelolahan kelapa sawit menjadi minyak CPO yang diolah oleh perusahaan.

“Di Babel ini per bulannya bisa menghasilkan sekitar 7 ribu ton Miko dari berbagai pabrik CPO. Kami akan kerja sama dengan perusahaan asal Korea, untuk membangun pabrik dengan kapasitas lima ribu ton. Januari tahun depan Insya Allah akan berjalan pembangunan pabriknya,” ujarnya.

  1. B3S juga bekerja sama dengan perusahaan asal China rencananya akan membangun pabrik kaca di Kawasan Industri Sadai, yang menggunakan bahan baku pasir kuarsa. Dengan perusahaan tersebut belum sampai tahap MoU, namun perusahaan tersebut sudah melakukan studi kelayakan dan kemungkinan prosesnya akan cepat.

“Ada investornya sudah siap dan sudah bersedia, saya mau ketemu tanggal 5 di China sekalian saya mau presentasi terkait dengan Kawasan Industri Sadai di sebuah forum. Nanti disana kita juga akan melakukan penendatanganan kerja sama,” katanya.

Selain itu, PT. B3S menjadi manajemen proyek Jembatan Bangka-Sumatera yang dalam hal ini mendatangkan investor asal China yakni Train Way Construction, sebuah perusahaan yang juga membangun kereta cepat Jakarta-Bandung. Saat ini rencana pembangunan jembatan tersebut sudah dilakukan pra studi kelayakan dan prosesnya cukup memerlukan waktu.

“Di sini kami pengelolaan manajemen pembangunannya atau manajemen proyeknya, kami menguhubungkan investor dengan Pemerintah Babel, Sumsel, Bappenas, PUPR. Kalau kita targetnya diupayakan dalam RPJMN 5 tahun ini. Rencananya ini akan konsorsuim antara BUMD Babel, invenstor dan beberapa BUMN konstruksi., yang sudah menyatakan berminat yakni perusahaan Waskita Karya,” katanya.

PT. B3S juga akan bekerja sama dengan Global Wakaf yang sudah menangani sebanyak 400 lebih gerai di Jadebotebek. Di Babel, Global Wakaf akan menjalankan sistem Berkah Mart yang pada Januari nanti terdapat 230 Berkah Mart yang sudah siap beroperasi. Berkah Mart adalah usaha yang dibentuk BUMDes, untuk memasarkan produk UMKM lokal serta kebutuhan masyarakat lainnya.

“Mereka berinvestasi dan juga menggunakan sistem mereka yang sudah teruji, maka BUMD lebih mengelola pusat distribusi yang ada di Air Mangkok. Ini luar biasa karena kita bisa memasukan produk UMKM yang bisa dijual di Berkah Mart, bukan hanya di desa setempat tapi juga bisa dijual di Berkah Mart desa lainnya,” jelasnya.

Di bidang pertanian, PT. B3S bekerja sama dengan BUMD Bangka Selatan dan investor dari Jakarta mengelola rice mill plant atau pabrik pengolahan beras yang terletak di Batu Betumpang, Bangka Selatan.

“Jadi itu sebenarnya bantuan dari Kemendes tapi sudah sembilan tahun tidak jalan. Kemarin kita cari investornya dan sudah dapat, mereka sudah siap nanti Februari sudah bisa jalan. Kami ada 2000 hektare seluruhnya di Batu Betumpang, Bangka Selatan ini, sudah mulai dan berasnya sudah dipasarkan. Kami juga bekerja sama dengan petani lokal dan ini pertanian yang berbasis korporasi. Pemasarannya berasnya juga nanti melalui Berkah Mart,” ujarnya.

Dikatakan Bang Udin, PT. B3S mendapat tugas dari Gubernur Erzaldi untuk membangun kantor pemasaran lada bersama dengan landasan hukum Pergub yang belum lama dikeluarkan. Kantor pemasaran lada ini merupakan konsorsium stakeholder terkait, yakni PT. B3S, Badan Pengelolaan, Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L), Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI), Dewan Rempah Babel dan Koperasi Lada.

“Intinya PT. B3S ini mengkoordinasikan, memantau, mendata lada Bangka Belitung terkait dengan ekspor dan penjualan dalam negeri. Jadi kalau untuk ekspor sesuai dengan arahan gubernur hanya melalui dua pintu, menggunakan kemasan yang sudah punya IG. Kantornya sudah ada di City Hall sudah siap,” jelasnya.

PT. B3S sudah dua bulan ini bekerja sama dengan 20 pelaku UMKM untuk membuka gerai di kawasan Batam Center, Kepulauan Riau. Gerai tersebut dominan menjual produk lada Babel yang sudah dikemas bagus. Rencananya bulan depan (Desember) PT. B3S bersama pelaku UMKM juga akan membuka gerai di Lucky Plaza, Singapura.

“Sebetulnya ini untuk pintu masuk lada asal Babel, jadi kalau ada buyer yang butuh sampel lada maka kalau ada disana tinggal pilih mau lada yang kualitas apa. Saya juga ingin UMKM go internasional, mulai dari Singapura. Karena kalau Singapura sudah bisa terima produk kita, maka sebagian besar negara bisa menerima juga. Kita juga akan penuhi standar Singapura, maka produk kita ada tantangan yang bisa dilakukan dan ada nilai tambah. Kalau hanya jual di lokal saja harganya segitu-segitu saja,” katanya.

Tak hanya itu, PT. B3S juga membangun rumah percontohan untuk UMKM lada bekerja sama dengan pelaku UMKM. Dalam rumah percontohan tersebut tidak hanya praktek memproduksi produk yang berkualitas namun juga pelaku UMKM diberikan edukasi mengenai perizinan, sertifikat halal, barcode internasional, kemasan, serta produk yang dikeluarkan sudah siap dan memiliki kualitas diekspor.

“Saya mau menunjukan ke para pelaku UMKM lada supaya bisnis ini menjanjikan, tapi perlu kita ajak mereka beri edukasi bagaimana produksinya dan kemasannya dibagusin yang standar," ujarnya.

PT. B3S juga rencananya akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk menyalurkan solar non subsidi kepada para penambang. Hal ini sebagai solusi membantu pemerintah daerah dalam menangani para pengerit yang membeli BBM jenis solar bersubsidi untuk kegiatan pertambangan.

Dikatakan Bang Udin, solar non subsidi tersebut rencananya akan diimpor dari negara Rusia yang dinilai memiliki harga kompetitif. Untuk penyaluran solar akan dibuat SPBU mini yang hanya terdapat dua nozel untuk melayani pembeli.

“Nanti pembelian solar pakai fullcard yang membatasi pengerit, maka solusinya BUMD menjual solar non subsidi yang resmi. Solar subsidi yang tidak ada pajak daerahnya digunakan oleh para penambang, maka berapa nilai kerugian pemerintah dengan adanya pengerit. PBBKB (pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor) itu 7,5 persen. Jadi sudah saya hitung dalam setahun kita kehilangan 60-80 miliar,” terangnya.

Bang Udin menambahkan, selama ini ia memang tidak mau terlalu mengumbar perkembangan usaha PT. B3S kepada masyarakat luas, khususnya kepada media. Hal tersebut bukan karena adanya persoalan, namun dirinya hanya ingin fokus mengembangkan usaha. Apalagi baru beberapa bidang usaha yang berjalan dan selebihnya masih dalam proses.

Bang Udin sangat optimis kegiatan usaha PT B3S bisa tumbuh berkembang dengan baik. Apalagi dengan waktu yang tidak lama yakni tercatat dalam delapan bulan sudah banyak bidang usaha yang digelutinya. Tinggal bagaimana untuk fokus menjalankan usaha tersebut, sehingga bisa berjalan dengan sistem yang baik dan berkembang. (BBR)


Penulis : Irwan

Editor   : Kasmir

Sumber : Babel Review