Karena si Koin Juga Ingin Dimengerti

kasmirudin
Karena si Koin Juga Ingin Dimengerti
Siti Rizky Aulia. (Mahasiswi Universitas Bangka Belitung).

MAYORITAS masyarakat khususnya Bangka Belitung kini enggan dan segan dikarenakan malu apabila menenteng si ‘koin’, untuk menjadikannya alat transaksi dalam jual beli. Bentuknya yang kecil semakin dipandang rendah, karena nilainya yang tak seberapa. Si koin tak semenarik uang kertas yang disimpan dalam dompet. Namun jangan salah paham, si koin juga masih memiliki nilai dan peran yang sama sebagai alat tukar dalam pembayaran seperti yang ditaksir oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Bambang Pramasudi. Ia menjelaskan, bahwa hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

"Kalau kita kembali pada UU Nomor 7 Tahun 2011, di situ mengatakan bahwa siapa pun yang bertransaksi di NKRI wajib menggunakan rupiah, baik pecahan uang kertas maupun logam," ucapnya.

Kita bisa lihat kini di toko-toko sembako biasanya menggantikan uang kembalian Rp500,- ditukar dengan permen dan masyarakat pun lebih menghargai itu dibandingkan mendapatkan kembalian berupa uang Rp500,- saja.  Padahal permen bukanlah mata uang yang memiliki nilai tukar pengganti uang koin. Secara tidak sadar mereka hanya membelanjakan uang koin tersebut dengan permen, karena menganggap nilai guna yang rendah pada si koin.

Namun, si koin sangat rajin bersedekah dilihat dari eksistensinya di kotak amal masjid dan juga kadang tak bertuan tergeletak di jalanan dan tidak ada yang merisaukan keberadaannya.

Saya berfikir seandainya ada sebuah cafe atau tempat makan yang hanya menerima uang koin atau E-money dalam transaksi jual belinya, karena memiliki peran penting dalam sebuah tempat. Masyarakat akan jauh lebih menghargai keberadaan si koin yang juga ingin dimengerti, untuk terciptanya perputaran dan persebaran siklus uang yang dikeluarkan hal ini sangat sederhana namun memiliki peran yang baik .

Maka dari itu peran pemerintah dalam menghargai si koin harus lebih ditingkatkan lagi. Memang barang yang dijual di Pulau Bangka ini sangat mahal adanya, namun apa salahnya melibatkan si koin dalam pertukaran transaksi di tempat khusus yang disediakan.

Berikut adalah sebagaimana perputaran uang yang ada di Indonesia

  1. Bank Indonesia mencetak uang baru dan mendistribusikan uang ke seluruh Kantor BI baik kantor pusat maupun kantor daerah.
  2. Kantor Bank Indonesia pusat dan daerah mendistribusikan uang melalui perbankan maupun layanan kas lainnya.
  3. Bank Umum ( Nasional & Swasta) menerima uang dari Bank Indonesia dan melayani kebutuhan masyarakat akan uang tunai.
  4. Masyarakat mengambil uang dari bank dan menggunakannya untuk kebutuhan transaksi serta menyetorkan “kelebihan” uang tunainya ke bank.
  5. Perbankan menerima setoran uang tunai dari masyarakat dan menyetorkannya kembali ke Bank Indonesia.
  6. Bank Indonesia memusnahkan uang jelek dan mendistribusikan kembali uang baru dan uang yang masih layak.

Dari hal tersebut mengakibatkan outflow dan inflow terhadap uang logam tidak optimal.

Pada tahun 2019 sendiri diketahui dalam satu dasawarsa terakhir, di seluruh Indonesia BI telah mengeluarkan uang koin sekitar Rp 6 triliun. Namun yang kembali ke BI hanya Rp 900 miliar atau 16 persen dengan tren semakin menurun.

Sementara data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) di  Sulawesi Selatan sendiri mencatat bahwa, sejak lima tahun terakhir, BI telah mengedarkan uang pecahan koin Rp 1.000 ke bawah sebanyak Rp 87,4 miliar, baik melalui penarikan uang ke perbankan mapun melalui layanan pe ukaran dan kas keliling.

Namun dalam periode yang sama, uang yang kembali ke BI melalui perbankan dan masyarakat hanya Rp 893,3 juta atau 1,02 persen saja.

Maka dari itu cashfolw di Indonesia setiap tahunnya semakin turun terutama pada peredaran uang logam yang mana outflow dan inflownya sangat tidak sebanding atau tidak  balance.

Dalam mata kuliah akuntansi Keprilakuan terdapat hal-hal yang mempengaruhi manusia itu sendiri dalam melakukan transaksi, hal tersebut diungkapkan oleh teori.

Menurut George Herbert Mead, cara manusia mengartikan dunia dan dirinya sendiri berkaitan erat dengan masyarakatnya. Mead melihat pikiran (mind) dan dirinya (self) menjadi bagian dari perilaku manusia yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Mead menambahkan, bahwa sebelum seseorang bertindak, ia membayangkan dirinya dalam posisi orang lain dengan harapan-harapan orang lain dan mencoba memahami apa yang diharapkan orang itu (Mulyana,2007).

Kesimpulan bahwa ketika kalian memberikan uang logam tersebut, Anda berpikir bahwa sang penjual mungkin keberatan apabila Anda membayarnya dengan uang tersebut. Sehingga timbul rasa tidak nyaman, karena yang Anda harapkan juga Anda lebih ingin menerima uang kertas dibandingkan dengan logam tersebut. (BBR)


Penulis  : Siti Rizky Aulia. (Mahasiswi Universitas Bangka Belitung)
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review