Ini Cerita Wisatawan Belanda Tentang Toleransi Orang Bangka, Dengar Khutbah Jumat Dari Teras Kelenteng Kong Fuk Miau

Ahada
Ini Cerita Wisatawan Belanda Tentang Toleransi Orang Bangka, Dengar Khutbah Jumat Dari Teras Kelenteng Kong Fuk Miau
Kelenteng Kong Fuk Miau terletak di Kota Muntok menjadi ikon keharmonisan antar umat beragama di Indondesia. Lokasi kelenteng ini bersebelahan dengan Masjid Jami’ Muntok, Kabupaten Bangka Barat. (Foto: istimewa)

 

MENTOK, BABELREVIEW.CO.ID --  “MUNTOK THAT STAYS IN MY MIND. Today is Friday. The moslems are praying and I am sitting at the Kong Fuk Miau Temple next door listening to the praying call. What is more beautiful than these harmonious communities?”

(“Muntok yang berkesan di hati ku. Hari ini Jum’at. Para jemaah Muslim sedang beribadah sementara saya duduk di Kelenteng Kong Fuk Miau, berseberangan dengan masjid, mendengarkan suara mereka beribadah. Apakah ada hal yang lebih indah daripada keharmonisan komunitas disini?)”

Sepenggal ungkapan yang ditulis oleh Hasti Tarekat Dipowijoyo, salah satu pendiri dari Pansumnet, dan Badan Warisan Sumatera serta Founder dari Heritage Hands On yang berkedudukan di Belanda saat berkunjung ke Kota Muntok.

Kelenteng Kong Fuk Miau yang terletak di Kota Muntok memang menjadi ikon keharmonisan antar umat beragama di Indondesia.

Lokasi kelenteng yang bersebelahan dengan Masjid Jami’ Muntok telah berdiri bersandingan di era tahun 1800an ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke kota Muntok dan membuat pengunjung terkesan dengan keharmonisan yang ada.

Suwito dari komunitas Heritage of Tionghua Bangka menjelaskan kepada BBR bahwa di dalam Kelenteng Kong Fuk Miau ada satu naskah yang dibingkai dan ditaruh di sebelah kiri klenteng yang berisi naskah pemugaran klenteng dan pendirian klenteng.

Dalam naskah tersebut tertulis 1820 atas dasar kongsi bersama (gotong royong). Kelenteng ini dibangun atas dasar persaudaraan.

“Sebetulnya ada benda-benda yang mengindentifikasikan kapan bangunan ini berdiri. Misalnya dari pahatan kayu di struktur bangunan dan dari plakat-plakat atau kuplet (papan sajak) yang ada.”jelasnya.

Kong Fuk Miau berawal dari sebuah kuil yang didirikan sekitar tahun 1800 oleh gabungan imigran Tionghoa asal Provinsi Guangdong dan Fujian yang kemudian menamai tempat ibadah itu menjadi "Kuil Orang Guangdong dan Fujian".

Saat ini Kuil Kong Fuk Miau dijadikan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi (cagar budaya) Kota Mentok. Bersebelahan dengan Kelenteng Kong Fuk Miau, hanya dipisahkan dengan sebuah gang kecil, berdiri tegak juga sebuah Masjid Jami.

Dalam proses pembangunan masjid, tidak hanya dilakukan oleh umat muslim yang ada di Muntok, tetapi juga dengan bantuan oleh nonmuslim, terutama dari warga etnis China.

Masjid Jami ini merupakan masjid tertua di Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Masjid ini dibangun pada tahun 1883 Masehi.  Hadirnya masjid ini memperlihatkan juga betapa kerukunan umat beragama di Muntok telah terlihat sejak lama. 

Penjaga situs cagar budaya masjid Jami, Fahmi, menjelaskan bahwa mayoritas bahan bangunan masih merupakan aslinya.

Masjid Jami' Muntok memiliki ukuran 21 meter x 23 meter. Tinggi masjid 6 meter, diukur dari lantai masjid yang posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah 160 cm.

Masjid itu memiliki lima pintu yang  salah satunya  dinamakan pintu Beduk. Disinilah beduk besar masjid berada. Beduk yang saat ini dipergunakan merupakan beduk yang baru, sedangkan beduk yang lama diletakkan bersebelahan.

Diatas pintu beduk terukir kaligrafi surat Al-Baqoroh ayat 148. Kaligrafi Mihrab masjid bertuliskan surat Ali-Imran ayat 37. Kaligrafi mihrab menjadi satu-satunya kaligrafi yang tersisa setelah peristiwa penyerbuan tentara Jepang di Muntok.

Lantai bangunan utama menggunakan marmer ukuran 1x1 meter yang terasa dingin walaupun cuaca panas.

“Ruang utama masjid berukuran 17 m x 17 m, atap masjid ditopang oleh 4 tiang yang terbuat dari kayu hitam. Sumbangan dari Mayor berkebangsaan China. Pada salah satu sudut ruang utama masjid, terdapat tangga menuju lantai dua, dimana dulunya dipergunakan untuk mengumandangkan panggilan shalat.” Jelasnya.

Fahmi juga menjelaskan karena masjid ini merupakan cagar budaya maka bentuk bangunan utama tidak boleh dirubah.

Sehingga untuk pengembangan masjid Jami memanfaatkan lahan yang tersedia tanpa mengganggu struktur bagunan utama.

Saat ini telah berdiri tegak menara dan bangunan pendukung untuk kegiatan keagamaan di masjid itu.

“Bentuk kerjasama antara masjid Jamik dengan kelenteng juga masih terjalin hingga saat ini. Misalnya dalam pembangunan gudang masjid, pembagian sembako, dan saling berkoordinasi jika melakukan kegiatan keagamaan.” Ujarnya.

Ayo berkunjung ke Muntok, dan rasakan keharmonisan antar umat beragama yang tercermin dari dari masyarakat dan peninggalan sejarah yang ada. (BBR)

Penulis: Buditio