Hoax Bergentayangan Bagaikan Hantu, Siswa dan Mahasiswa Diminta Kurangi Mainkan Jari Tangan

kasmirudin
Hoax Bergentayangan Bagaikan Hantu, Siswa dan Mahasiswa Diminta Kurangi Mainkan Jari Tangan
Pemimpin Redaksi Babel Review Dodi Hendriyanto saat menjadi nara sumber dalam Kegiatan Pengelolaan Aspirasi Publik, yang digelar Dinas Kominfo Pemprov Babel di Ballroom Soll Marina Bangka, Kamis (21/3/2019). (foto:Kusuma)

BANGKATENGAH, BABELREVIEW.CO.ID --  Berita hoax cukup sampai di tanganmu saja. Kenali berita hoax, setelah itu hapus. Kalimat ini disampaikan Dodi Hendriyanto di hadapan sekitar 200 siswa dan mahasiswa di Ballroom Soll Marina Bangka, Kamis (21/3/2019).

Kepada seluruh siswa dan mahasiswa, Dodi meminta harus pintar dan cerdas dalam menilai setiap informasi atau berita yang diterima, baik langsung maupun melalui media sosial yang setiap saat menghampiri siswa dan mahasiswa.

“Saat ini hoax bergentayangan bagaikan hantu. Menghampiri kita tanpa kita minta. Kadang kitapun tak mampu menolaknya, seketika saja hoax sudah masuk dalam genggaman kita,” ujar Bangdoi, sapaan akrab Pemimpin Redaksi Babel Review ini, saat menjadi salah satu narasumber pada Kegiatan Pengelolaan Aspirasi Publik, yang digelar Dinas Kominfo Pemprov Babel.

Dodi menjelaskan bahwa Hoax atau pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Berita hoax mudah menyebar melalui internet, jalurnya bisa berupa situs online, media sosial, hingga chatting di aplikasi pesan instans.

“Berita Hoax banyak menimbulkan dampak negatif.  Dalam ajaran agama Islam juga disebutkan, bahwa hoax sudah jelas dilarang, dan di dalam Al-Qur’an telah jelas diterangkan bahwa berita bohong atau hoax adalah modal orang-orang munafik untuk merealisasikan niat kotor mereka,” tutur Dodi.

Mengingat bahaya yang sangat besar akibat berita hoax ini, Dodi mengajak generasi muda untuk berani memutus hubungan di media sosial dengan orang yang gemar menyebar kebencian. Jangan ragu untuk ‘block’ jika tidak suka berdebat.

Dodi juga mengajak siswa dan mahasiswa untuk ikut menyebarluaskan berita positif maupun tulisan kritis terkait isu terkini.

“Orang baik yang diam akan dikalahkan oleh radikalisme di media sosial. Mari kita jadikan tahun 2019 ini sebagai tahun perlawanan orang-orang baik yang tahun-tahun sebelumnya masih diam. Karena media sosial adalah medan pertempuran dan DIAM atau DEK KAWAH NYUSAH sudah bukan pilihan lagi,” tegas Dodi.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Sudarman menjelaskan, bahwa generasi muda yang banyak menggunakan media social cukup rentan menjadi rusak pemikirannya.

Dampak kemajuan teknologi informasi saat ini, kata Sudarman, membuat perubahan dunia sangat cepat. Jika dulu ingin mendapatkan informasi harus membaca koran, namun sekarang cukup mengakses smartphone. Kecenderungan yang terjadi, membuat berita buruk lebih cepat tersebar dari pada berita atau informasi baik. Apalagi pegiat media sosial yang telah mempunyai subscribe atau follower cukup banyak. Medsos sudah menjadi pengganti peran media mainstream.

Menurut Kadiskominfo Sudarman, penyebarluasan hoax melalui medsos sangat dahsyat, padahal Informasi itu tidak didukung fakta. Teknologi informasi membawa berkah juga membawa mudarat.

"Kecepatan jari dengan kecepatan berpikir harus seimbang. Ketika dapat berita jangan langsung diterima, namun harus dicerna terlebih dahulu. Buatlah Informasi menarik dan penting bagi masyarakat," tukas Sudarman.

Sebelumnya Ketua Panitia Pelaksana Fitra Mayarini menjelaskan, kegiatan ini mengusung tema “Bermedsos Cerdas, Kenali Informasi Hoax di Jejaring Sosial”. Adapun tujuannya agar generasi muda bermedsos dengan positif.

"Diharapkan generasi muda bisa membantu menyebarkan informasi positif di kalangan masyarakat. Sebab peserta kegiatan ini merupakan mahasiswa dan siswa SMA sederajat," tegas Fitra. (BBR)


Penulis  : Kusuma                                                                  
Editor    : Kasmir
Sumber  : Babel Review