Dr.Ibrahim : Penantang Baru Cari Celah, Incumbent Tak Jamin Menang

andre
Dr.Ibrahim : Penantang Baru Cari Celah, Incumbent Tak Jamin Menang
Foto : Ist

 TOBOALI, BABELREVIEW-- Atmosfer Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) semakin panas setiap harinya.Meski belum ada partai yang menyatakan secara resmi mengusung kandidatnya.

 Namun para Bakal calon sudah rutin melakukan kunjungan ke masyarakat guna menarik simpati. Pertarungan Pilkada disejumlah daerah diprediksi akan menarik.

 Apalagi ada Incumbent yang akan saling beradu meraih simpati dan suara masyarakat dengan pendatang baru.Tolak ukur keberhasilan Incumbent dalam menjabat dapat diukur melalui Pilkada.

 Bila masyarakat puas dengan kinerjanya, tentu bukan hal yang sulit bagi Incumbent untuk memenangkan kontestasi Pilkada.Namun, apabila kinerja kurang baik, tentu pendatang baru yang diuntungkan dalam Pilkada ini.

 " Bagi Incumbent, pertarungan menuju ke kursi periode kedua tidak hanya menjadi indikator kepiawaian dalam memimpin di periode sebelumnya, namun juga soal keberlanjutan jenjang karir politik, " ungkap Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) Dr.Ibrahim.

 Menurutnya, wajar jika setiap Incumbent selalu berhasrat besar untuk memenangkan kontestasi.Soal pekerjaan belum selesai, masih perlu waktu untuk menuntaskan janji, juga soal pengabdian untuk masyarakat, adalah alasan-alasan klasik yang menjadi basisnya.

 Hanya saja, sambungnya, karena dalam posisi memimpin, maka Incumbent rawan untuk ditakar dan dinilai titik lemah dan keunggulannya.

 " Incumbent yang terkesan panik sebenarnya adalah fenomena lumrah dan saya kira mereka sudah menyiapkan diri untuk pertarungan yang keras.Sementara bagi penantang sendiri, ada celah-celah yang bisa dikejar berdasarkan rekam jejak Incumbent, " katanya kamis (13/02/2020).

 Lebih lanjut ia mengatakan, apakah incumbent kuat atau lemah, pertanyaan ini amat relatif, banyak faktor penentunya, diantaranya siapa lawan yang dihadapi, bagaimana strategi, dan bagaimana pengalaman kepemimpinan selama ini.

 " Saya melihat bahwa Pilkada adalah seni. Seni memainkan irama gerakan politik, seni berkomunikasi, seni mengatur kelemahan dan kekuatan, serta seni membangun citra dan opini.Karenanya, setiap lokus menjelaskan kondisi yang berbeda, " ungkapnya.

 Diakuinya ,tidak ada rumus mapan untuk menggambarkan kemampuan Incumbent dalam mempertahankan kursinya, semua berpeluang terjadi.

 " Tapi kira-kira, incumbent logikanya punya peta diorama politik yang lebih utuh, telah bergerak lebih dulu, dan memiliki sumber daya dan modal sosial lebih.Tapi lawannya siapa dulu, jika lawannya memainkan artikulasi politik yang cantik dan dinamis, peluang bisa berubah ancaman, dan ancaman bisa berubah peluang, " pungkasnya.(BBR)


Penulis : Andrean

Editor : Andrean

Sumber : Babelreview