Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menkes RI Resmi Buka Porkesremen Bangka Belitung

kasmirudin
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menkes RI Resmi Buka Porkesremen Bangka Belitung
Menteri Kesehatan RI yang diwakilkan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr Anung Sugihantono M.kes membuka Pekan Olahraga dan Kesenian Rehabilitasi Mental (Porkesremen) Nasional dan Jambore ke VII 2019 di Lapangan Bola Bina Satria Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kamis (3/10/2019). (Foto: Ibnu)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID -- Menteri Kesehatan RI yang diwakilkan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr Anung Sugihantono M.kes membuka Pekan Olahraga dan Kesenian Rehabilitasi Mental (Porkesremen) Nasional dan Jambore ke VII 2019 di Lapangan Bola Bina Satria Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kamis (3/10/2019).

"Saya ucapkan kepada gubernur Bangka Belitung, bupati Kabupaten Bangka dengan seluruh jajarannya, kepala Dinas Kesehatan para direktur rumah sakit daerah yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan maksimal," tuturnya.

Ia mengatakan, menurut undang-undang tentang kesehatan secara fisik, mental spiritual maupun sosial, karena itu sehat jiwa dan sehat mental adalah bagian yang mendasar dari kehidupan seseorang serta perlu mendapatkan perhatian semua pihak.

"Seperti halnya berbagai macam penyakit dan masalah kesehatan jiwa pada dasarnya gangguan jiwa dapat dicegah dan dapat kita tanggulangi secara maksimal dalam kesehatan yang optimal bagi setiap individu. Maka keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, mempunyai tanggung jawab untuk melakukan upaya-upaya yang mendasar di dalam kerangka upaya upaya promotif preventif, kuratif maupun rehabilitatif," tegasnya.

Menurutnya, peran keluarga dalam pencegahan gangguan jiwa sangat penting karena keluarga merupakan pusat kehidupan individu keluarga perlu memahami tanda-tanda faktor resiko yang terjadi di antara anggota keluarganya, yang berpotensi menimbulkan gangguan jiwa individu tersebut pertolongan profesional melalui tahapan skrining di Puskesmas.

"Promosi di masyarakat menjadi satu hal yang sangat penting untuk kita lakukan di dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit salah satu dampak buruk dari gangguan jiwa, adalah mencetuskan rasa ingin bunuh diri sendiri merupakan masalah kesehatan, sosial, agama dan budaya yang terjadi di masyarakat yang harus bisa kita cegah dan kita tanggulangi bersama," kata Anung Sugihantono.

Peringkat seluruh dunia sejak dasawarsa terakhir ini, untuk itulah salah satu indikator sistem sampel atau tujuan pembangunan berkelanjutan 2030 adalah menurunkan kejadian bunuh diri menjadi sepertiga dari posisi saat ini. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019 adalah promosi kesehatan jiwa bagi individu keluarga dan masyarakat khususnya, dalam upaya pencegahan bunuh diri menurut data yang kita miliki di Indonesia

Dijelaskannya pada tahun 2016, 5 orang meninggal setiap hari karena bunuh diri. Pencegahan bunuh diri perlu dilakukan oleh seluruh jajaran baik pemerintahan masyarakat maupun organisasi profesi yang menjadi satu kesatuan tekad sekaligus upaya yang mendasar.

"Untuk melakukan hal-hal semacam ini Rumah Sakit Jiwa sebagai satu kesatuan di dalam sistem pelayanan kesehatan mempunyai tanggung jawab bukan hanya di dalam membendung untuk memberikan pelayanan tetapi sekaligus berkunjung ke masyarakat untuk memberikan pemahaman melakukan skrining dan sekaligus menemu kenali gejala sejak dini dan memberikan pengobatan yang maksimal, agar upaya-upaya untuk bunuh diri tidak terjadi di masyarakat," imbuhnya.

Dengan mengusung sub tema “Hari kesehatan jiwa sedunia ini” adalah sehat jiwa dimulai dari diri keluarga dan masyarakat.

Menurut dia, ini sangat tepat dan mengingatkan bahwa kesehatan jiwa sangat penting bagi kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga dan masyarakat oleh karena itu tanggung jawab semuanya untuk mewujudkan kesehatan fisik mental sosial di lingkungannya masing-masing.

Kegiatan ini merupakan momentum yang baik untuk mempromosikan kesehatan jiwa kepada masyarakat. Ia berharap melalui kegiatan ini pemahaman masyarakat akan semakin meningkat dengan demikian akan mengurangi stigma terhadap kesehatan jiwa dan orang dengan gangguan jiwa dan sekaligus mendorong kontribusi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas rehabilitasi dalam rangka mengurangi ketergantungan

"Kepada orang lain saya juga berharap melalui kegiatan ini akan memperkuat kerja sama antar kesenian pekan olahraga dan kesenian kepada semuanya untuk senantiasa mengenang para pejuang pembangunan kesehatan khususnya pembangunan kesehatan jiwa dan meneladani semangat serta pengabdian serta mendoakan kepada mereka yang sudah kembali ke hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mendapatkan ampunan dan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan Yang Maha Esa," pungkasnya.

Pokesremen yang ke VII ini mempertandingkan beberapa cabang olah raga antara lain: catur, bulu tangkis, voli, futsal dan tenis meja yang diikuti oleh sebanyak 31 rumah sakit dari berbagai daerah di Indonesia. (BBR)


Penulis  : Ibnu
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review